Pupuk Indonesia Dukung Pencapaian Target 1 Juta Hektare Pertanian Modern

  • Diposting oleh User01
  • 26 Agustus2026
  • 17:43WIB
Caption

Jakarta, 7 Agustus 2026 – PT Pupuk Indonesia (Persero) siap mendukung tercapainya target 1 juta hektare (ha) Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang diinisiasi Kementerian Pertanian dengan menyediakan pupuk bersubsidi sesuai alokasi. Komitmen tersebut disampaikan Senior Vice President Indonesia Agrichemical Research Institute (IARI) Pupuk Indonesia, Gita Bina Nugraha, saat menjadi narasumber Webinar Sinar Tani, Rabu (5/8/2026).

Gita menyampaikan bahwa keberhasilan program pertanian modern ini sangat ditentukan oleh dukungan pupuk. Berdasarkan studi yang dilakukan Pupuk Indonesia, kontribusi pupuk dapat mencapai hingga 62 persen terhadap produktivitas padi sehingga program ini perlu didukung dengan ketersediaan pupuk yang memadai.

"Pupuk Indonesia sangat berkomitmen untuk menyukseskan program PM-AAS ini. Kami memastikan semua tahapan akan dikawal secara intensif, stok dan penyaluran pupuk juga kami pantau setiap hari agar kebutuhan petani terpenuhi sesuai ketentuan," ujar Gita.

Untuk mendukung keberhasilan program pertanian modern, lanjut Gita, Pupuk Indonesia saat ini tengah melakukan pembaruan data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) serta penyelarasan elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (eRDKK). Langkah ini dilakukan agar penerima maupun alokasi pupuk bersubsidi sesuai dengan kebutuhan implementasi program pertanian modern di lapangan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Pupuk Indonesia juga memiliki kapasitas produksi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional. Saat ini Pupuk Indonesia didukung oleh lima anak perusahaan produsen pupuk dengan kapasitas produksi urea sekitar 9,4 juta ton per tahun dan NPK sebesar 4,6 juta ton per tahun, serta berbagai jenis pupuk lainnya.

Kesiapan tersebut diperkuat dengan jaringan distribusi yang luas. Pupuk Indonesia didukung lebih dari 27 ribu Penerima Pupuk di Titik Serah (PPTS) yang tersebar di seluruh Indonesia untuk memastikan pupuk dapat diterima petani secara tepat waktu.

"Secara kapasitas produksi maupun infrastruktur distribusi, Pupuk Indonesia siap mengawal program strategis Pemerintah. Kami memiliki kemampuan untuk memastikan pupuk tersedia sehingga petani dapat menerapkan PM-AAS secara optimal," kata Gita.

Sementara untuk menjaga kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi, pada awal Agustus 2026 Pupuk Indonesia telah menyiapkan stok nasional sebanyak 1.076.023 ton. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan pupuk bersubsidi nasional selama sekitar 36 hari ke depan.

Di sisi lain, Pupuk Indonesia juga memperkuat pengawasan distribusi melalui berbagai sistem digital. Salah satunya adalah Command Center yang memantau pergerakan pupuk mulai dari pabrik hingga ditebus oleh petani yang terdaftar.

"Melalui sistem ini kami dapat memastikan distribusi pupuk berlangsung transparan dan akuntabel. Potensi keterlambatan dapat dideteksi lebih dini sehingga segera ditangani, sekaligus memastikan pupuk bersubsidi benar-benar diterima oleh petani yang berhak," jelas Gita.

Berikutnya ia mengungkapkan, implementasi program pertanian modern yang telah berjalan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Selain capaian luasan tanam yang sesuai target, produktivitas padi juga meningkat hingga mencapai sekitar 10 ton per hektare.

"Ini menjadi bukti bahwa kombinasi teknologi PM-AAS, SDM yang unggul, dan pemupukan yang presisi mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Sinergi seperti inilah yang perlu terus diperkuat," ujar Gita.

Pada kesempatan tersebut, Gita juga menekankan pentingnya penggunaan pupuk organik dalam mendukung keberhasilan program pertanian modern. Karena itu, ia berharap petani dapat mengoptimalkan penebusan pupuk organik bersubsidi yang telah dialokasikan pemerintah.

"Tahun ini Pemerintah telah menyiapkan alokasi pupuk organik bersubsidi sekitar 600 ribu ton. Kami berharap petani dapat memanfaatkannya secara optimal sehingga implementasi PM-AAS mampu memberikan hasil yang maksimal," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Kementerian Pertanian, Amin Nur, yang juga menjadi narasumber dalam webinar, menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan sistem budidaya padi modern berbasis teknologi, presisi, dan korporasi. Tahun ini program tersebut diterapkan di lahan seluas 1 juta hektare dan ditargetkan meningkat menjadi 3 juta hektare pada tahun depan.

Menurut Amin, PM-AAS bukanlah teknologi yang sepenuhnya baru, melainkan penyempurnaan sistem budidaya dengan memanfaatkan teknologi modern pada setiap tahapan produksi. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan tanam, pemupukan, penyemprotan, hingga panen dapat dilakukan secara lebih efektif, efisien, dan presisi sehingga mampu meningkatkan produktivitas.

Ia menambahkan, implementasi PM-AAS saat ini telah memasuki tahap piloting di lahan seluas 2.000 hektare yang tersebar di 15 provinsi. Dalam waktu dekat, Kementerian Pertanian juga akan melaksanakan panen perdana PM-AAS seluas 100 hektare di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, dengan potensi produktivitas mencapai 11,5 ton per hektare.

"Melalui PM-AAS ini kami berharap dapat mendorong regenerasi pertanian. Semakin banyak generasi muda yang terlibat, semakin kuat pula fondasi pertanian Indonesia di masa depan," tandasnya.

Baca Juga